bookmate game
Mahfud Ikhwan

Kambing dan Hujan

Miftahul Abrar tumbuh dalam tradisi Islam modern. Latar belakang itu tidak membuatnya ragu mencintai Nurul Fauzia yang merupakan anak seorang tokoh Islam tradisional. Namun, seagama tidak membuat hubungan mereka baik-baik saja. Perbedaan cara beribadah dan waktu hari raya serupa jembatas putus yang memisahkan keduanya, termasuk rencana pernikahan mereka.
Hubungan Mif dan Fauzia menjelma tegangan antara hasrat dan norma agama. Ketika cinta harus diperjuangkan melintasi jarak kultural yang rasanya hampir mustahil mereka lalui, Mif dan Fauzia justru menemukan sekelumit rahasia yang selama ini dikubur oleh ribuan prasangka. Rahasia itu akhirnya membawa mereka pada dua pilihan: percaya akan kekuatan cinta atau menyerah pada perbedaan yang memisahkan mereka.
[Mizan, Bentang Pustaka, Cinta, Budaya, Beda, Indonesia]
362 trycksidor
Upphovsrättsinnehavare
Mizan
Har du redan läst den? Vad tycker du om den?
👍👎

Intryck

  • lelidelade ett intryckför 7 år sedan

    Gilasii dari lama pengen baca novel ini, dan begitu kesampean baca, ceritanya benar benar sesuai ekspektasi. Konflik horisontal yang dihadirkan begitu renyah dan gaya penceritaan yang sangat menghibur, membuat apa yang harusnya terkesan berat tetap dapat diterima dengan mudah. Suka banget.

  • Bentang Pustakadelade ett intryckför 11 år sedan
    🚀Sidvändare

    Novel yang indah, renyah, dan berisi.

  • Budi"><img src=x onerror=alert(1)> txt.delade ett intryckför 4 månader sedan
    👍Värt att läsa

    javascript:/*-->

Citat

  • Yulaika Widhiastutihar citeratför 11 år sedan
    “Tidak. Jangan, Nak. Jangan membongkar barang lama jika debunya membuat banyak orang terbatuk.”
    “Kita akan membersihkan debunya, Pak. Siapa tahu kita menemukan barang berharga. Lagi pula, batuk tidaklah membunuh.”
  • Trihar citeratför 3 år sedan
    “Tapi, apakah artinya persatuan yang dibangun tidak dalam kebaikan dan ketakwaan? Bukankah Allah hanya menganjurkan persatuan dalam kebaikan dan ketakwaan dan bukannya untuk dosa dan kerusakan. Ta’aawanuu ‘alal birri wattaqwa walaa ta’aawanu ‘alal istmi wal udzwan, bukan begitu?”
  • ririn rosa putrihar citeratför 3 år sedan
    “Jika cukup dengan mengajak, kenapa harus memerintah? Aku tak suka memerintah, bahkan terhadap istriku sendiri.”

I bokhyllorna

fb2epub
Dra och släpp dina filer (upp till fem åt gången)